Sidebar ADS

PAK KETUM BUKAN DIKTATOR: MENANGGAPI OTORITAS PBNU YANG BERLEBIHAN‼️

PAK KETUM BUKAN DIKTATOR: MENANGGAPI OTORITAS PBNU YANG BERLEBIHAN

Polemik yang terjadi di tubuh NU pada mulanya adalah bermuara dari letupan letupan kecil yang tidak pernah ingin dipadamkan. Letupan letupan itu kemudian berangsur menjadi letusan letusan yang sulit dihentikan dan sampai hari ini kelihatannya PBNU masih " Mbudek" atau kalau tidak menggunakan jurus " Budek maka alat yang sering digunakan adalah menggunakan tangan tangan otoritas diluar batas, main instruksi yang bernada rasa Ultimatum bahkan serasa intimidasi.

Bukti pertama, bahwa persoalan yang sampai hari ini masih eksis menganggu sistem imun atau kekuatan ditubuh NU, banyak sekali, tentang NU garis lurus yang mengawali keributan merecoki NU belum juga ditumpas tokoh tokohnya belum diadili bahkan PBNU cenderung diam, padahal gerombolan ini juga membuat inisiasi dan sub ordinat memecah diri dari NU dan juga merusak kekuatan NU. 

Bukti kedua masih ada kontak atau konflik horizontal polemik nasab yang berkepanjangan sampai hari ini pun belum kelar tidak ada solusi dan mediasi, PBNU sangatlah ambivalen cenderung pada fihak yang berbeda dengan realitas mayoritas kelompok Nahdliyin dan tidak ada upaya yang mengarah pada titik pertemuan yang maslahat yang di inginkan oleh warga NU sescara keseluruhan.

Pada narasi instruksi yang dikeluarkan PBNU banyak menuntut bijaknya warga Nahdliyin dalam menyikapi berbagai polemik, namun PBNU sendiri kurang bijak menghadapi polemik-polemik yang bertebaran seperti halnya fenomena di atas dan bahkan tak berujung selesai sekali. Bahkan sering menyimpulkan tentang hal yang masih kontraversi tanpa diteliti.

Kegaduhan terakhir dipicu dari statemen pengurus yang menyatakan PWI LS bukan NU, saya yakin narasi ini tidak disetujui atau di amini oleh semua pengurus dengan rasionalisme berfikir yang jernih dan jujur, karena nyatanya para pengurus PWI LS juga orang-orang NU yang berani membantah dan mengikari keberadaan mereka? Hanya orang-orang yang hatinya jumud dengan fanatisme berlebihan yang menolaknya. Walaupun memang bukan banom NU, namun darah daging dan perjuangan mereka adalah bagian dari tubuh NU.

Jikapun PBNU ingin menafikan mereka dan menganggap mereka bukan dari NU berapa banyak warga NU yang disia siakan di marginalkan dari bagian tubuh NU, inilah silogisme cacat yang harus dihenyahkan dari sistem konsep keorganisian di NU. PBNU harus siap ngemong warganya bukan "ngomeng" warganya dengan hanya instruksi yang tidak berdasarkan realita. Warga NU semakin hari semakin cerdas mereka akan kembali berfikir tentang keberkahan yang didasarkan komitmen pendiri pendirinya, bukan pada oknum pengurusnya yang keluar dari nawa cita organisasi NU.

Dari uraian tersebut, saya kira tidak "ndakik-ndakik" saya berharap ada evaluasi kesabaran dan kesadaran dari PBNU untuk terus memantau persoalan warganya dengan berbagai pandangan kasih sayang ngemong dan pertimbangan yang matang, jangan hanya bernafsu menang sendiri tanpa melihat kebutuhan dan keinginan postif dari warganya, PBNU tidak boleh disetir oleh sekonario kelompok atau individu yang melumpuhkan imunitas NU itu sendiri.

Terakhir saya sebagi warga NU " Ndeso plosok di pinggir hutan pedalaman, digunung, dipesisir pantai tetap masih mempunyai harapan besar terhadap barakah pendiri dan masyayih NU yang tidak ikut carut marut serta pergolakan yang tidak manfaat di NU, dan kita harus benar benar mengikuti wasiat Yai Raden Syamsul arifin " jika ingin dapat berkahnya NU apa kata mutiara beliau "  walaupun PBNU jangan diikuti kalau sepak terjangmya tidak sesuai dengan marwah NU dan Pendirinya. Jika sudah sesuai ikutilah mereka agar penuh berkahnya.

Nahdlatul Ulama - PBNU

Oleh : PERJUANGAN WALI SONGO 
web.facebook.com/qsantri.eu.org?apps.apple

إرسال تعليق

Beri masukan dan tanggapan Anda tentang artikel ini secara bijak.

أحدث أقدم
Sidebar ADS
Sidebar ADS
Sidebar ADS