Sidebar ADS

MENJAGA MULUT DAN ADAB: NASEHAT ATAS PERKATAAN TIDAK BERADAB MUHIBIN YAHUDI BAALAWI‼️

MENJAGA MULUT DAN ADAB: NASEHAT ATAS PERKATAAN TIDAK BERADAB MUHIBIN YAHUDI BAALAWI 

Dalam kehidupan ini, ilmu tanpa adab adalah kehancuran. Apalagi jika seseorang berasal dari kalangan pesantren, putra seorang kiai, dan dipandang oleh masyarakat sebagai panutan. Ketika seseorang dari golongan tersebut berkata kasar kepada seorang ulama — seperti kalimat “Wahai Imad, datanglah ke Bojonegoro, tak sodok pantatmu pakai gagang pacul!” — maka ini bukan hanya mencerminkan buruknya akhlak, tapi juga memperlihatkan cacatnya pemahaman ruhani dan hilangnya rasa takut kepada Allah SWT.

Padahal, adab kepada sesama muslim, apalagi kepada ulama, adalah salah satu pilar dalam pendidikan Islam, sebagaimana dikatakan oleh para ulama tasawuf:

> Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata:
“Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.”
(Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadlihi, Ibn Abdil Barr)

Dan dalam tasawuf, adab bahkan didahulukan sebelum ibadah lahiriah. Imam al-Junayd al-Baghdadi, seorang tokoh besar tasawuf, mengatakan:

“Tasawuf itu semua adalah adab. Siapa yang bertambah adabnya, maka bertambahlah hakikat kedekatannya kepada Allah.”

Perkataan kotor yang ditujukan kepada KH Imaduddin Utsman al Bantani bukan hanya menyakitkan pribadi beliau, tapi juga merupakan penghinaan kepada ilmu, kepada ikhtiar ilmiah, dan kepada etika dalam berdiskusi. Perbedaan pandangan tidak pernah membolehkan seseorang untuk berkata keji, mengancam, atau melecehkan.

Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

 “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik. Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.”
(QS. Al-Isra’: 53)

Bahkan terhadap orang yang kita benci atau berselisih pendapat pun, kita diperintahkan untuk tetap menjaga lisan dan adab:

> “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.”
(QS. Al-An’am: 108)

Kalimat keji semacam itu sangat jauh dari akhlak para salafus shalih dan para ahli tasawuf. Ulama besar seperti Imam al-Ghazali menjelaskan dalam Ihya’ Ulumuddin bahwa:

“Lidah adalah cermin hati. Bila hati kotor, maka lisannya juga akan berkata buruk.”

Jika lidah ringan mengeluarkan ancaman dan cercaan, maka itu adalah tanda bahaya dalam hati seseorang. Lebih mengkhawatirkan lagi jika lisan itu datang dari seorang putra kiai — yang mestinya tumbuh dalam pendidikan akhlak, dzikir, dan ketakwaan.

Sayangnya, beberapa waktu setelah perkataan buruk itu dilontarkan, orang tersebut meninggal dunia. Wallahu a’lam bish-shawab, kita tidak boleh berspekulasi tentang takdir seseorang. Namun dalam pandangan tasawuf, kejadian yang datang berdekatan dengan perbuatan dzalim atau maksiat seringkali merupakan ‘isyarat ilahi’ — bahwa Allah membela orang yang dizalimi.

 Rasulullah SAW bersabda:
“Takutlah kalian terhadap doa orang yang dizalimi, karena tidak ada hijab antara doanya dengan Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

KH Imaduddin Utsman al Bantani adalah seorang peneliti, ulama, dan pejuang intelektual. Beliau menggunakan ilmu, nalar, dan adab dalam menyampaikan pandangan. Menyanggahnya dengan kasar bukanlah bentuk diskusi ilmiah, melainkan kebodohan yang dibungkus kemarahan.

Kepada siapa pun yang berbeda pandangan: marilah kita ingat bahwa perbedaan adalah ladang hikmah, dan adab adalah jembatannya. Jangan sampai karena fanatisme terhadap kelompok, nasab, atau guru, kita kehilangan akhlak dan lupa bahwa setiap ucapan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

 “Tidak ada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”
(QS. Qaf: 18)

Semoga Allah SWT memberikan ampunan bagi yang telah wafat, mengangkat derajat para ulama yang dizalimi, dan menjadikan kita semua hamba yang berilmu sekaligus beradab.

web.facebook.com/qsantri.eu.org?apps.apple

إرسال تعليق

Beri masukan dan tanggapan Anda tentang artikel ini secara bijak.

أحدث أقدم
Sidebar ADS
Sidebar ADS
Sidebar ADS